Buatlah teks laporan mengenai fenomena budaya - kevinjtimothy.me

Buatlah teks laporan mengenai fenomena budaya


Jika kamu sedang mencari jawaban atas pertanyaan: Buatlah teks laporan mengenai fenomena budaya, maka kamu berada di tempat yang tepat.
Disini ada beberapa jawaban mengenai pertanyaan tersebut. Silakan baca lebih lanjut.

Pertanyaan

Buatlah teks laporan mengenai fenomena budaya

Jawaban #1 untuk Pertanyaan: Buatlah teks laporan mengenai fenomena budaya

judul: tentang fenomena budaya

Fenomena BudayaIde tulisan ini muncul setelah penulis menyaksikan salah satu acara hiburan di stasiun televisi Indonesia. Pada tayangan tersebut, banyak dijumpai anak usia remaja yang berpenampilan heboh atau berlebihan, mulai dari aksi panggung, kostum yang entertain dilengkapi segala atribut yang menempel di badan, dandanan wajah dan gaya rambut yang boleh dikatakan spektakular. Mereka berjoget dengan riang gembira senada dengan irama alunan lagu yang berkumandang. Suasana hingar-bingar dalam ruangan salah satu stasiun televisi tersebut justru makin mengakrabkan mereka untuk saling menunjukkan jiwa ke-entertain-an dan citra diri diantara masing-masing individu. Mereka tampak seperti terhipnotis dengan alunan lagu yang membahana. Aksi goyangan panggung tampak menjadi salah satu cara bagi mereka untuk menunjukkan eksistensi diri di dalam studio televisi yang gegap gempita. Setelah alunan lagu dihentikan, mereka pun bersorak dan bertepuk tangan untuk saling memberikan dukungan kepada masing-masing kelompok atas tampilan aksi kreatifnya.Setelah melakukan upaya penelusuran dalam internet, penulis menemukan jawabannya. Kelompok anak usia remaja dengan penampilan “heboh-mareboh” yang penulis saksikan dalam tanyangan hiburan di televisi diatas itu dikenal dengan sebutan “anak alay.” Suatu fenomena baru terkait budaya yang berkembang di Indonesia. Kemunculan anak alay ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan kemajuan teknologi yang semakin canggih. Segala hal baru yang menjadi trend di penjuru dunia manapun, saat ini rasanya akan begitu cepat tersebar dan mudah diserap sebagai konsumsi “trendy” bagi individu di belahan dunia lainnya. Tidak dapat dipungkiri, dengan kecanggihan internet maka dunia seakan dekat laksana bagian halaman depan dari rumah keluarga. Informasi global yang dibawa internet, secara tidak langsung makin menyuburkan komunitas anak alay di Indonesia.Pengaruh penampilan gaya rambut berwarna dan busana colorful yang diusung oleh trend “K-Pop” atau Korean Pop dari artis Korea mungkin dapat menjadi salah satu icon rujukan untuk mendukung aksi “ke-alai-an” mereka. Gaya rambut “polem” atau poni lempar dari artis idola dalam boy band remaja ibukota juga dapat menjadi trend di komunitas anak alay. Hal tersebut adalah suatu keniscayaan, mengingat anak alay biasanya masih berusia belasan tahun. Berdasarkan teori tahapan perkembangan, pada periode usia ini, remaja mudah tersugesti dan meniru penampilan “keren” dari tokoh idola yang dikagumi. Selain itu, anak alay tampak memiliki suatu bakat dan jiwa entertain sejati, karena berhasil menghidupkan suasana di tiap pertemuan melalui penampilannya. Sebagai contoh, mereka memadukan gaya joget “gangnam style” atau “harlem shake” yang pernah booming pada medio tahun lalu sesuai alunan lagu yang ditampilkan dalam momentum acara. Ide kreatif dalam variasi busana yang dimunculkan tidak hanya bernuansa “K-Pop” dari Korea, gaya berpakaian ala “Harajuku” yang terkenal di Jepang, atau atribut yang sedang trend dari film barat. Tetapi kekentalan nuansa tradisional Indonesia juga tetap muncul, sehingga makin memperkaya aksi panggungnya. Sebuah penampilan laksana dari ide suatu tim kreatif saluran televisi. Kemunculan anak alay dapat dikatakan sebagai suatu fenomena budaya yang berkembang di Indonesia. Mengingat Indonesia merupakan sebuah negara agraris yang saat ini sedang dihujani oleh masuknya berbagai kemodernitasan tehnologi, mulai dari gaya hidup (life style), media online, elektronik, sampai dengan gadget canggih. Selain itu, menjamurnya saluran televisi lokal yang menjadikan slot tayangan hiburan sebagai salah satu unggulannya laksana oase bagi dahaga dari aktualisasi diri komunitas anak alay. Suatu hubungan simbiosis mutulisme dari komsumerisasi antara stasiun televisi dan komunitas anak alay. Di satu sisi, stasiun televisi dapat mendongkrak rating tayangan hiburan dengan menghadirkan komunitas anak alay. Tidak dapat dipungkiri, bahwa anak alay merupakan individu yang penuh kreativitas sehingga dapat menjaring banyak penonton untuk melirik tayangan hiburan tersebut televisi. Kehadiran jejaring sosial di internet dan smartphone telah membawa pada suatu dinamika baru dalam menunjang ke-eksis-an anak alay yang terkenal sebagai individu “sociable” atau mudah bersosialisasi. Hal ini dibuktikan dengan berkembangnya “bahasa gaul” yang singkat, padat, dan sedikit membingungkan laksana tulisan “bahasa mesin” dari anak alay yang sering dijumpai dalam percakapan di chatting atau pesan pendek pada handphone diantara remaja di Indonesia

semoga bermanfaat
terimakasih:)

Sekian tanya-jawab mengenai Buatlah teks laporan mengenai fenomena budaya, semoga dengan ini bisa membantu menyelesaikan masalah kamu.


Leave a Reply

Your email address will not be published.